Jumat, 05 Februari 2010

Rindu yang diam


"Pada sepenggalan malam,
cahaya itu merenggut rindu...
tak mampu terungkap kata...
kecuali kebahagiaan yang mengagumkan..."


2010 Tue 2 at 1:46am

Menyapa Cahaya


"Malam semakin gelisah.
Cahaya itu,
sejenak ingin ku sapa..."



2010 February 1 at 12:05am

Allah, hamba rindu pada-Mu (org. Kerinduan pada Allah)


Aku adalah manusia yang diciptakan dari kekuasaan-Mu
Engkau yang berhak memberikan nyawa untukku
Dan Engkaulah yang berkehendak sehingga aku ada
Engkaulah yang memberikan kesempatan padaku untuk merasakan hidup

Aku berjalan diatas pasir yang diam
Ditengah derunya ombak yang begitu keras
Ada kekosongan yang begitu dalam
Ada ketakutan dan kerinduan yang sangat dalam

Kerinduan akan Allah yang selalu ada buat setiap umatnya
Tapi apakah Allah ada untukku?
Ketakukanku kembali muncul
Akankah Allah mau mendengarkan segala keluh kesahku?

Dalam kegelapan ini aku masih berharap
Akan ada secercah cahaya buat mengganti kegelapan dalam hidupku
Kegelapan yang membuat aku rindu pada Allah
Dan suatu hari nanti aku bisa berada ditempat yang begitu indah
Tempat dimana setiap manusia mengharapkannya. Amien...



(tag. Kemudian)


Friday, January 29, 2010 at 3:55pm

PERKENANKAN AKU MENCINTAIMU SEMAMPUKU...


Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi…
tentang cinta para Nabi
tentang kasih para Sahabat
tentang mahabbah para Sufi
tentang kerinduan para Syuhada
lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Ku tumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…

Tapi Rabbii,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu…
Aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang paling utama,
Namun…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu…
Aku makin merasakan gelisahku membadai…
dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi…
Hingga aku terhempas dalam jurang
dan kegelapan…

Wahai Ilahi,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu…
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon dan menghiba-Mu:

Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu,
Semampuku

Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu
Sebisaku
Dengan segala kelemahanku

Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa
Karena itu izinkan aku mencintai-Mu
Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku

Rabbii,
Aku tak sanggup mencintai-Mu seperti Abu bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan Rasul-Mu bagi diri dan keluarga.
atau layaknya Umar yang menyerahkan separuh harta demi jihad.
atau Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dien-Mu.
Izinkan aku mencintai-Mu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan.
pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan.

Ilaahi,
aku tak sanggup mencintai-Mu dengan khusyuknya shalat salah seorang shahabat Nabi-Mu hingga tiada terasa anak panah musuh terhunjam di kakinya.
Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu, dalam shalat yang coba Ku dirikan terbata-bata, meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Robbii,
Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu. Maka izinkanlah aku untuk mencintai-Mu dalam satu-dua raka’at lailku.

dalam satu dua sunnah nafilah-Mu.
dalam desah napas kepasrahan tidurku.

Yaa, Rahmaan,
Aku tak sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam.
Perkenankanlah aku mencintai-Mu, melalui selembar dua lembar tilawah harianku.
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa, Rahiim
Aku tak sanggup mencintai-Mu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu.
seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagi-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwah-Mu.
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Kariim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya, dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya.
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu di dalam segalanya.
Izinkan aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia dan alam semesta.

Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku.
Agar cinta itu mengalun dalam jiwa.
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku….



______________________________
Yang senantiasa merindukan cinta-Mu

Thursday, January 14, 2010 at 12:49pm

Self


"Salju di dahan-dahan.
Salju di jalan-jalan,
di atap dan di topiku.
Sunyi dan rindu yang putih,
sampai ke pedalaman jiwa,
yang menjaga diri untuk tak menggigil,
yang menjaga diri tak seperti burung,
menyingkir menyertai matahari..."


December 31, 2009 at 10:04am

Diorama Kerinduan


"Ku titipkan bahagia pada suatu hari di musim hujan.
Lewat semilir angin.
Lewat basah daun.
Lewat titik-titik gerimis...
Ku titipkan bahagia pada pelangi.
Pada cahaya senja yg bersih setelah hujan.
Pada bola matamu kala berkaca pada mataku.
Ku titipkan bahagia bersama kerinduanku padamu,
ketika hujan mulai turun..."


December 30, 2009 at 4:10pm

Kamis, 04 Februari 2010

Malam dan Kebijaksanaan


"Langit malam pun tak senantiasa dihiasi bintang,
bercengkramalah dengan debu,
carilah kebijaksanaan bersama awan.
hujan menyimpan makna,
hanya embun yang setia bersama pagi,
tersaput terang sejenak berteduh dalam gelap,
kemudian hadir menemani menghantar perjalanan menikmati cahaya..
tak ada yg abadi..."


November 18, 2009 at 12:41pm

Cahaya Sepenggalan...


".....gelap kian menggulita,
penghuni malam masyuk bercengkerama
bersama belaian cahaya
yang masih tersisa sepenggalan....."


October 24, 2009 at 1:12am

Tak Bertepi...


".....retorika gelap
biaskan fikir pada pertautan ambisi
yang melintasi ruang dan waktu tak bertepi.....
dimanakah persembunyian sejuk itu....."


October 23, 2009 at 10:48pm

Titian Langkah


"kalaulah gelap itu menjadi kemunafikan,
biarkan langkah menuju cahaya..."


October 9, 2009 at 2:49pm

Rabu, 07 Oktober 2009

"Dingin melemparkan sengatan. Lampion berpadu gulita. Bak koloni semut, para perantau berseliwer menapaki lintasan. Pramusaji menantang malam bersama seonggok keriuhan kecil. Musisi jalanan hidangkan syair-2 genit kehidupan, sesekali mencolek ib...a penikmat penat. Pias datar, sumringah, sekilas senyum merangkak bersama mimpi menuju tepian. Kemarin menyejarah, waktu kemudian menjadi asa. Saatnya genggam keniscayaan..."

Yesterday at 6:02am
"Melintasi serpihan perjalanan. Sepi. Rangkaian kata semu. Nestapa. Asa menggelitik, sejenak tersenyum kecut. Tiada kehangatan yang menyejukkan. Hujan tertawa. Nikmati sajalah..."

Mon at 4:17pm
"Sejuk itu ternikmati sebelaian. Tinggalkan kegaduhan di dentang 33 pada 01.39. Sapaan mentari mulai mengintip di ufuk fajar. Bismillahirrahmanirrahiim..."

Mon at 5:22am
"Dentang 28 di 02.25. Lelapku tersentak. Tangisan kaku menyeret ruh memungut raga. Percikan kesejukan suguhkan ketenangan sejenak. Dentang 55 di 03.06. Busur kemenyatuan (ruh dan raga) membelah malam. Angin membelai. Fikir berkejaran dalam tatap...an tersaput gelap. Wahai penggenggam kisah, percikan sekilau cahaya. Rapalan mantra ritual-ritual asa. Biarkan senyum tetap merekah indah. Riang tawa dinantikan..."

Sun at 3:37am
"Sejuk itu telah ku reguk. Cahaya tersenyum (bingung) menyapa, ketika sejarah menyeret dalam lintasan waktu. Jiwa-jiwa kian tercerabut dari serpihan pertautan kisah. Langah-langkah kecil sejenak masih terukir indah dalam tatapan. Sesaat kemudian... akan berkelabat hilang. Riang pun seirama. Sorot mata itu perlahan mendepakku, meniti jejak-jejak mentari yang akan ajarkan kebijaksanaan sempurna..."

October 3 at 10:04am
"Mentari telah melintas jauh. Selimut mendekap erat pemilik mimpi. Penghuni malam riang, berdansa dalam lautan irama. Tak ada perbincangan. Tapi ku rasakan ada cahaya indah melambai di malam ku..."

October 3 at 4:05am
"Hujan t'lah lelah, dedaun tertawa riang bersama cahaya. Terompet duka mengembalikan ruh pada jazadku. Fikirku semakin kencang berlari dalam kebisingan. Sejenak ingin bersenandung. Bingung. Tiada mampu kata terucap. Kesadaran bukan semata impian tak bermuara"

October 1 at 1:11pm
"sejenak ingin ku kosongkon jiwa dan fikirku... ku biarkan ruh ku bercengkerama bersama hujan dan dedaunan..."

October 1 at 8:27am
"Matahari dan rembulan memahatkan kisah beriring dengan nafas kehidupan. Embun datang dan tergantikan bersama pagi. Nahkoda terombang-ambing di hamparan samudera tak bertepi. Orang-orang berkejaran dengan ombak pantai. Dermaga kian elok, kokoh dan gemerlap, tapi sunyi tak berkicauan. Lelap saatnya terjaga sempurna, agar kilau bermakna indah..."

September 29 at 11:28am
"Aku mendengar suara jerit hewan yang terluka, Ada orang memanah rembulan, Ada anak burung terjatuh dari sangkarnya. Orang-orang harus dibangunkan. Kesaksian harus diberikan, agar kehidupan bisa terjaga..."

(R-74, Bieb)